Search

@rahendz's blog

The official Rahendra Putra K Weblog

Category

Stories

UAD, my fu*kin’ campus.

Tanggal 31 Agustus, hari terakhir pada bulan itu. Akhir bulan yang begitu dinanti-nantikan. Karena pada tanggal 1 September dini hari mayoritas keluarga besar islam di seluruh indonesia melaksanakan kegiatan sahur bersama ditempat masing-masing. Continue reading “UAD, my fu*kin’ campus.”

KKN UII, just an exercise 2

Ini adalah lanjutan dari postingan kemaren.

Hari 4: Rumah dukuh setempat. Saya terbangun dari tidur dan semua orang sudah ‘sliwar-sliwer’ didekat saya. Satu yang membuat saya merasa tidak enak adalah ketika saya bangun langsung ditawari makan pagi oleh Bu Dukuh, meski saat itu saya sedang merasa belum lapar namun tawaran anak-anak dan Bu Dukuh saya terima. Setelah makan pagi (atau tepatnya cemilan) selesai langsung diteruskan dengan rokok. Seperti dulu pernah saya posting, saya bangga menjadi seorang perokok.

Hari ini saya tidak hanya membantu dalam perdenahan saja tetapi juga pencetakan huruf dengan cat semprot. Hingga saya memutuskan untuk pulang dan beristirahat sejenak selama satu hari karena nantinya saya harus kembali lagi bekerja dalam perdenahan ini kembali.

Hari 5: Rumah dukuh setempat. Setelah menerima pesan singkat dari teman saya, maka saya langsung dijemput dan kita langsung menuju lokasi KKN untuk menyelesaikan tugas yang diamanatkan kepada saya. Hari ini saya sudah bisa merasakan kedekatan terhadap semua anggota KKN, layaknya saya anggota resmi dari KKN UII ini. Benar-benar aneh. Kita sering melontarkan candaan-candaan layaknya kita sudah kenal lama. Dan ini hari terakhir karena tugas saya sudah selesai 80%, sedangkan sisa-nya akan diselesaikan sendiri oleh mereka.

Setelah penyelesaian tugas ini, saya berfikir sejenak sambil melihat gambar denahnya. Saya merasa begitu tidak enak, karena hasilnya tidak memuaskan. Banyak yang ‘mawut’ baik dari gambar dan pengecatannya. Saya benar-benar tidak bangga akan hasil yang saya dapatkan. Tetapi mereka masih berbesar hati untuk tetap mengatakan bahwa hasil saya bagus, saya tau bahwa hasilnya tidak bagus namun saya menghormati mereka yang berusaha membuat saya tetap mampu mengangkat wajah ketika saya pulang.

Hingga saat tulisan ini dibuat saya masih merasakan kedekatan kami, saya mendapatkan begitu banyak pengalaman dan pelajaran dari sana. Saya merasa bahwa ini adalah pelatihan KKN untuk saya. Bagaimana cara mengorganisir kelompok, bagaimana cara seorang anggota mengambil sebuah keputusan dan bagaimana kita meyelesaikan sebuah masalah dalam kelompok baik itu intern dan ekstern. Untuk saat ini saya mampu mengatakan bahwa kelompok mereka merupakan kelompok yang mampu bekerja sama dengan baik.

Thanks to Bogie a.k.a Wira (sebutan anak-anak KKN karena belum tahu nama panggilannya meski agak gak sreg saya nyebutnya) a.k.a Aki (atau kakek, ini juga sebutan anak-anak KKN terutama para cewek karena doi selaku ketua, tahun kelahiran yang jauh lebih tua dibandingkan para cewek-ceweknya dan karena jenggotnya), Gilang, Mas Chaesar (yang ini sebenernya sudah cocok dipanggil Pak, karena beliau angkatan 2002 dan sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki satu anak. Oh ya? Nama anaknya siapa yah?), Sita (Wuih, kalo yang ini bodinya top markotop. Anak-anak bilang kalo ga salah mirip sarah azhari. Wkakaka!), Erli (nah, ini nih yang cerewetnya minta ampun, cewek yang sering adu argumen yang ga penting dengan Pak ketua. Dan mendapat julukan Annisa Bahar, ini kalo ga salah juga karena doi punya badan yang agak kurang tinggi, agak enggak langsing tetapi montok. Nah lo?!), Septi (nah, kalo cewek yang satu ini adalah yang punya sarana prasarana. Cewek ini juga yang sering bantuin saya dalam urusan cat-mengecat), dan terakhir adalah Melia (cewek satu ini terbilang cengeng, bukan manja. Karena doi terlalu khawatir terhadap hal-hal kecil tetapi saya salut karena ia masih mau berusaha dengan tangannya sendiri meskipun ia tahu ia belum tentu mampu. Yang saya kaget darinya adalah ia merupakan saudara teman dekat saya, Angga dan pernah ikut satu bus rombongan pariwisata ketika kampungnya Bogie sedang berwisata).

KKN UII, just an exercise 1

Kurang lebihnya saya sudah lupa, tetapi yang jelas saat itu teman saya ini, Bogie atau teman-teman KKN-nya memanggilnya dengan nama Wira. Ia meminta tolong kepada saya untuk membantunya mempermudah penyelesaian program unitnya. Saya dimintai tolong untuk menggambar denah dusun tempatnya KKN ke bidang yang lebih luas, atau tepatnya memindah gambar printout ke papan kayu (benar-benar bikin repot).

Untuk saya saat itu yang sedang tidak memiliki planning kerja dan masih dalam masa liburan menerima tawaran kerjasama ini, kenapa saya bilang kerjasama? Karena saya memiliki pamrih akan bantuan yang saya tawarkan, disini saya menggunakan sistem barter yaitu saya membantu programnya hingga selesai dan teman saya membantu saya dalam menyelesaikan permintaan saya (meski saya tidak berharap banyak bahwa ia akan menyelesaikan permintaan saya ini).

Hari 1: Rumah dukuh setempat a.k.a posko KKN UII unit b-24. Atmosfer setempat begitu tidak bersahabat, bukan masalah cuaca tetapi karena saya belum mampu berinteraksi dengan baik kepada para anggota KKN disana meski saya sudah diperkenalkan ke semua anggota oleh teman saya bahkan secara pribadi saya sudah bersalaman dengan mereka semua. Maka untuk hari pertama saya hanya sebentar, hanya membantu teman saya untuk mempersiapkan bidang yang nanti akan saya ‘embat’ untuk digambari denah dusun setempat. Mulai dari ngecat putih untuk lapisan pertama dan kedua hingga membantu membuat cetakan huruf dari kertas.

Hari 2: Rumah dukuh setempat. Atmosfer sudah agak lumayan dibandingkan hari pertama, sudah mulai ada interaksi meski agak pasif. Masih terasa agak canggung ketika harus bertingkah layaknya saya biasanya. Tidak banyak yang saya lakukan saat itu, hanya membuat sketsa untuk denahnya dan langsung pulang. Saat itu baru saya rasakan bahwa tempat KKN itu begitu jauh dari kota dimana saya tinggal.

Hari 3: Rumah dukuh setempat. Atmosfer mulai mencair dan saya sudah mampu bercanda dengan anak-anak KKN-nya. Bahkan saya juga sudah mulai merasakan bahwa saya menjadi bagian dari mereka, bagian dari anggota KKN yang sekarang sedang sibuk mengurus berbagai program KKN yang telah terjadwal. Dengan Pak Dukuh pun saya sudah mampu berkomunikasi dengan lancar, karena sebelumnya saya masih merasa canggung karena saya masih memposisikan diri sebagai orang luar anggota KKN.

Dihari ke-3 ini agak berbeda, karena hari itu saya memutuskan untuk menginap dan menyelesaikan sebagian tugas saya. Setelah hari sebelumnya saya hanya membuat sketsa denah saja, hari ini saya dan teman saya mulai bermain dengan cat kayu. Jika hari itu saya memang anggota KKN maka saya memiliki jam kerja yang lebih banyak dari yang lain, karena disaat yang lain sudah tidur saya masih bekerja dengan cat, cat dan cat.

Kill the ‘Try Again’ button

Akhirnya untuk beberapa kali ini warnet memang harus saya jamah, yah.. meskipun ini merupakan ajakan dari seorang teman yang tidak mampu saya tolak karena alasan khusus yang benar-benar khusus. Menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya merupakan semboyan perjuangan yang samar-samar nempel dijidat kusam saya, ajakan saya terima dengan gegap gempita mumpung sedang menyambut HARI KEMERDEKAAN.

Cerita awal sehingga saya mengharuskan ‘ngenet’ di warnet. Siang itu saya sedang terbangun dari ‘semedi’ saya di kasur-tikar (kasur yang karena tipisnya sehingga bisa dilipat kaya tikar) saya. Mencoba me-load system otak yang kurang lebih sudah 3 jam berada pada mode hibernasi. Istilah dukunnya, nunggu sambil mengumpulkan nyawa yang masih melayang diawang-awang.

Setelah indera penglihatan mampu menerima bias cahaya dengan baik, saatnya untuk yuyi huka dan hossok hihi (‘cuci muka’ dan ‘gosok gigi’ dalam bahasa orang yang masih ngantuk). Begitu membuka pintu, tiba-tiba.. whussss!! Terasa angin pagi yang menyegarkan, begitu sejuk. Meski saat itu Enyak bilang saat itu sedang jam 12 siang lebih-lebih dikit. Tapi bagi saya sama saja.

Aktifitas cuci muka dan gosok gigi selesai, saatnya menyalakan monitor komputer. Biasa, komputer selalu saja menemani saya tidur. Ia pengganti obat nyamuk dalam kamar saya, ia selalu terjaga 24 jam non-stop. Benar-benar hebat, berbeda dengan monitor. Kalo monitor selalu saya matikan saat tidak diperlukan karena doi sudah pernah masuk sekali ke rumah sakit gara-gara pandangan yang sudah rabun. Maklumlah, monitor 14inch saya ini sudah berumur puluhan tahun. Sudah seharusnya memakai kacamata.

Komputerisasi dilakukan, hal pertama adalah cek konektifitas internet di komputer. Dan nampaknya koneksi baik-baik saja. Masih terkoneksi dengan WAP setempat. Tetapi cerobohnya, saya tidak pernah selalu menge-cek konektifitas internet server ke internet world. Dan alhasil setelah makan pagi (meski makannya siang hari, statusnya masih tetep makan pagi) dengan ‘keselek-selek’ karena pengen segera menyelesaikan editing blog ini, konektifitas tidak dapat dilakukan.

Beberapa kali dilakukan hanya muncul sebuah browser window dengan background warna kuning-kecoklatan dan box-rounder berada ditengah yang bertuliskan ADDRESS NOT FOUND. Tombol ‘TRY AGAIN’ yang selalu membuat saya naik darah. Benar-benar membuat saya dongkol. Mencoba utak-atik komputer, setting jaringan, IP, DNS, Services bahkan hingga bongkar pasang kabel koneksi. Namun setelah otak cukup dingin sejenak barulah tersadar, kemudian saya mencoba untuk melakukan sent-command ke google dan terlihatlah kebodohan saya. Karena ternyata koneksi gatewaynya yang terputus sehingga saya hanya bisa pasrah.

Benar-benar menggelikan, selama satu jam berkutat dengan yellow-page nya firefox dan tombol ‘TRY AGAIN’ hanya untuk bisa tahu bahwa koneksi WAP-nya yang gak konek ke jaringan internet dunia.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Just Another Thought

perjalanan jemari dalam rentang yang berbeda

Afriq Yasin Ramadhan

Media curhatan digital

denandika

learning for around the world