Search

@rahendz's blog

The official Rahendra Putra K Weblog

Category

Poetry

Where’s Me?

Rasaku sayup terurai, mencari celah arti kehidupan.
Mengais-ais deru nafas demi seonggok jati diri Continue reading “Where’s Me?”

Advertisements

This is my bullshit!

Sudah lebih dari 63tahun indonesia merdeka dari jajahan para negara-negara yang sekarang telah maju, negara-negara yang telah lupa bahwa mereka bisa maju karena dulu mereka pernah menjajah negara ini. Negara ini sebenarnya mampu berkembang lebih pesat bila saja mereka yang pernah menjajah negara ini mampu berfikir berdasarkan kemanusiaan dan bukan kekuasaan.

Mereka adalah penjahat kelas kakap, mereka adalah penjahat bermulut besar. Lihat saja apa yang telah mereka lakukan terhadap bangsa ini. Mereka hanya mementingkan keuntungan saja. Habis manis sepah dibuang, itulah mereka. Bangsa-bangsa yang tidak bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka lakukan hingga bangsaku ini carut-marut.

Secara logika, apabila ada seseorang yang memukul orang lain hingga ia cacat maka pemukul bertanggung jawab atas kecacatannya dunia akhirat. Hal ini juga berlaku terhadap negara, dimana ada negara yang membuat suatu negara menjadi cacat maka negara pembuat cacat itulah yang harus bertanggung jawab terhadap negara yang telah dibuatnya menjadi cacat. Dalam hal ini, INDONESIA adalah negara yang terlahir dengan kecacatan disana-sini akibat dari mereka para negara-negara komunis.

Selama 63tahun Indonesia terus berusaha untuk tetap berdiri meski sejak ia lahir telah cacat, cacat karena jajahan para penjahat berkedok negara. Apa yang dulu mereka fikirkan ketika mereka menjajah negara kecil ini, negara yang damai sejahtera ini. Dalam ilmu kesejarahan mengatakan bahwa mereka mencari kekuasaan akan pulau ini, baik lahannya, hasil buminya, bahkan hingga sumber daya manusianya.

Mereka sang Penjajah memang telah terlahir diatas sifat ketidakperikemanusiaan, mereka telah diberi makan kearoganan dan idealisme sebagai minumannya. Otak mereka hanya sebagai alat perhitungan atas keuntungan-keuntungan yang mereka raih, mereka capai dan mereka nikmati. Hingga sekarang Indonesia masih mampu tersenyum meski ia sedang mengalami kesakitan disana-sini, inilah bangsaku. Bangsa yang selalu ramah, bangsa yang selalu bangga dengan keadaannya.

Ia telah melewati perjuangan yang begitu berat hingga sekarang, Aku bangga Padamu! Aku bangga akan Indonesia! Aku bangga bahwa kau adalah Tanah Airku dan karena Ini adalah Kegombalanku.

unfriendly world

Menyeka peluh saat itu
hawa panas tak lagi terelakkan
menderu mencakar muka ku
dengan gerah yang tak tentu …

Kering menggaung ditenggorokan
menapaktilaskan kehausan
seperti hidup berhari-hari
ditengah gurun pasir tanpa air …

ia biru, namun ia kelabu
ia sejuk, namun kadang ia panas
kadang ia hujan dan basahi bumi
dengan rintik-rintik airnya,
Namun tak jarang ia ikrarkan panas
yang kalahkan segalanya …

Dunia memang sudah tak menentu
ia mampu tersenyum
namun tak jarang ia lebih sering mengumpat …

Damaikah ini … ?
Sejukkah ini … ?
Bagaimana hal ini mampu menenangkan
pabila memejamkan kelopak saja kita tak mampu …

heart screaming

Warnanya menguning
seperti saat senja sampaikan kesahnya
dalam lelap lamunanku kala itu

Asaku terhadap sang putri
seperti menguap begitu saja
rasa itu seakan semakin usang
laiknya daun-daun yang gugur
hanya karena hijau
kembali menguning kecoklatan

Jatuh ke atas tanah
dan berkumpul dengan yang lain
daun yang dulu pernah rasakan
hawa sejuk diatas sana …

Apakah memang selalu seperti ini
ketika dunia tak lagi menginginkannya
maka is campakkan begitu saja …

Ataukah ini hanya jalan lain
yang hingga sekarang
kita tak tahu
kapan ujung jalan itu
terlihat oleh mata kita … ?

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Just Another Thought

perjalanan jemari dalam rentang yang berbeda

Afriq Yasin Ramadhan

Media curhatan digital

denandika

learning for around the world