Search

@rahendz's blog

The official Rahendra Putra K Weblog

Month

August 2008

Where’s Me?

Rasaku sayup terurai, mencari celah arti kehidupan.
Mengais-ais deru nafas demi seonggok jati diri Continue reading “Where’s Me?”

KKN UII, just an exercise 2

Ini adalah lanjutan dari postingan kemaren.

Hari 4: Rumah dukuh setempat. Saya terbangun dari tidur dan semua orang sudah ‘sliwar-sliwer’ didekat saya. Satu yang membuat saya merasa tidak enak adalah ketika saya bangun langsung ditawari makan pagi oleh Bu Dukuh, meski saat itu saya sedang merasa belum lapar namun tawaran anak-anak dan Bu Dukuh saya terima. Setelah makan pagi (atau tepatnya cemilan) selesai langsung diteruskan dengan rokok. Seperti dulu pernah saya posting, saya bangga menjadi seorang perokok.

Hari ini saya tidak hanya membantu dalam perdenahan saja tetapi juga pencetakan huruf dengan cat semprot. Hingga saya memutuskan untuk pulang dan beristirahat sejenak selama satu hari karena nantinya saya harus kembali lagi bekerja dalam perdenahan ini kembali.

Hari 5: Rumah dukuh setempat. Setelah menerima pesan singkat dari teman saya, maka saya langsung dijemput dan kita langsung menuju lokasi KKN untuk menyelesaikan tugas yang diamanatkan kepada saya. Hari ini saya sudah bisa merasakan kedekatan terhadap semua anggota KKN, layaknya saya anggota resmi dari KKN UII ini. Benar-benar aneh. Kita sering melontarkan candaan-candaan layaknya kita sudah kenal lama. Dan ini hari terakhir karena tugas saya sudah selesai 80%, sedangkan sisa-nya akan diselesaikan sendiri oleh mereka.

Setelah penyelesaian tugas ini, saya berfikir sejenak sambil melihat gambar denahnya. Saya merasa begitu tidak enak, karena hasilnya tidak memuaskan. Banyak yang ‘mawut’ baik dari gambar dan pengecatannya. Saya benar-benar tidak bangga akan hasil yang saya dapatkan. Tetapi mereka masih berbesar hati untuk tetap mengatakan bahwa hasil saya bagus, saya tau bahwa hasilnya tidak bagus namun saya menghormati mereka yang berusaha membuat saya tetap mampu mengangkat wajah ketika saya pulang.

Hingga saat tulisan ini dibuat saya masih merasakan kedekatan kami, saya mendapatkan begitu banyak pengalaman dan pelajaran dari sana. Saya merasa bahwa ini adalah pelatihan KKN untuk saya. Bagaimana cara mengorganisir kelompok, bagaimana cara seorang anggota mengambil sebuah keputusan dan bagaimana kita meyelesaikan sebuah masalah dalam kelompok baik itu intern dan ekstern. Untuk saat ini saya mampu mengatakan bahwa kelompok mereka merupakan kelompok yang mampu bekerja sama dengan baik.

Thanks to Bogie a.k.a Wira (sebutan anak-anak KKN karena belum tahu nama panggilannya meski agak gak sreg saya nyebutnya) a.k.a Aki (atau kakek, ini juga sebutan anak-anak KKN terutama para cewek karena doi selaku ketua, tahun kelahiran yang jauh lebih tua dibandingkan para cewek-ceweknya dan karena jenggotnya), Gilang, Mas Chaesar (yang ini sebenernya sudah cocok dipanggil Pak, karena beliau angkatan 2002 dan sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki satu anak. Oh ya? Nama anaknya siapa yah?), Sita (Wuih, kalo yang ini bodinya top markotop. Anak-anak bilang kalo ga salah mirip sarah azhari. Wkakaka!), Erli (nah, ini nih yang cerewetnya minta ampun, cewek yang sering adu argumen yang ga penting dengan Pak ketua. Dan mendapat julukan Annisa Bahar, ini kalo ga salah juga karena doi punya badan yang agak kurang tinggi, agak enggak langsing tetapi montok. Nah lo?!), Septi (nah, kalo cewek yang satu ini adalah yang punya sarana prasarana. Cewek ini juga yang sering bantuin saya dalam urusan cat-mengecat), dan terakhir adalah Melia (cewek satu ini terbilang cengeng, bukan manja. Karena doi terlalu khawatir terhadap hal-hal kecil tetapi saya salut karena ia masih mau berusaha dengan tangannya sendiri meskipun ia tahu ia belum tentu mampu. Yang saya kaget darinya adalah ia merupakan saudara teman dekat saya, Angga dan pernah ikut satu bus rombongan pariwisata ketika kampungnya Bogie sedang berwisata).

KKN UII, just an exercise 1

Kurang lebihnya saya sudah lupa, tetapi yang jelas saat itu teman saya ini, Bogie atau teman-teman KKN-nya memanggilnya dengan nama Wira. Ia meminta tolong kepada saya untuk membantunya mempermudah penyelesaian program unitnya. Saya dimintai tolong untuk menggambar denah dusun tempatnya KKN ke bidang yang lebih luas, atau tepatnya memindah gambar printout ke papan kayu (benar-benar bikin repot).

Untuk saya saat itu yang sedang tidak memiliki planning kerja dan masih dalam masa liburan menerima tawaran kerjasama ini, kenapa saya bilang kerjasama? Karena saya memiliki pamrih akan bantuan yang saya tawarkan, disini saya menggunakan sistem barter yaitu saya membantu programnya hingga selesai dan teman saya membantu saya dalam menyelesaikan permintaan saya (meski saya tidak berharap banyak bahwa ia akan menyelesaikan permintaan saya ini).

Hari 1: Rumah dukuh setempat a.k.a posko KKN UII unit b-24. Atmosfer setempat begitu tidak bersahabat, bukan masalah cuaca tetapi karena saya belum mampu berinteraksi dengan baik kepada para anggota KKN disana meski saya sudah diperkenalkan ke semua anggota oleh teman saya bahkan secara pribadi saya sudah bersalaman dengan mereka semua. Maka untuk hari pertama saya hanya sebentar, hanya membantu teman saya untuk mempersiapkan bidang yang nanti akan saya ‘embat’ untuk digambari denah dusun setempat. Mulai dari ngecat putih untuk lapisan pertama dan kedua hingga membantu membuat cetakan huruf dari kertas.

Hari 2: Rumah dukuh setempat. Atmosfer sudah agak lumayan dibandingkan hari pertama, sudah mulai ada interaksi meski agak pasif. Masih terasa agak canggung ketika harus bertingkah layaknya saya biasanya. Tidak banyak yang saya lakukan saat itu, hanya membuat sketsa untuk denahnya dan langsung pulang. Saat itu baru saya rasakan bahwa tempat KKN itu begitu jauh dari kota dimana saya tinggal.

Hari 3: Rumah dukuh setempat. Atmosfer mulai mencair dan saya sudah mampu bercanda dengan anak-anak KKN-nya. Bahkan saya juga sudah mulai merasakan bahwa saya menjadi bagian dari mereka, bagian dari anggota KKN yang sekarang sedang sibuk mengurus berbagai program KKN yang telah terjadwal. Dengan Pak Dukuh pun saya sudah mampu berkomunikasi dengan lancar, karena sebelumnya saya masih merasa canggung karena saya masih memposisikan diri sebagai orang luar anggota KKN.

Dihari ke-3 ini agak berbeda, karena hari itu saya memutuskan untuk menginap dan menyelesaikan sebagian tugas saya. Setelah hari sebelumnya saya hanya membuat sketsa denah saja, hari ini saya dan teman saya mulai bermain dengan cat kayu. Jika hari itu saya memang anggota KKN maka saya memiliki jam kerja yang lebih banyak dari yang lain, karena disaat yang lain sudah tidur saya masih bekerja dengan cat, cat dan cat.

This is my bullshit!

Sudah lebih dari 63tahun indonesia merdeka dari jajahan para negara-negara yang sekarang telah maju, negara-negara yang telah lupa bahwa mereka bisa maju karena dulu mereka pernah menjajah negara ini. Negara ini sebenarnya mampu berkembang lebih pesat bila saja mereka yang pernah menjajah negara ini mampu berfikir berdasarkan kemanusiaan dan bukan kekuasaan.

Mereka adalah penjahat kelas kakap, mereka adalah penjahat bermulut besar. Lihat saja apa yang telah mereka lakukan terhadap bangsa ini. Mereka hanya mementingkan keuntungan saja. Habis manis sepah dibuang, itulah mereka. Bangsa-bangsa yang tidak bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka lakukan hingga bangsaku ini carut-marut.

Secara logika, apabila ada seseorang yang memukul orang lain hingga ia cacat maka pemukul bertanggung jawab atas kecacatannya dunia akhirat. Hal ini juga berlaku terhadap negara, dimana ada negara yang membuat suatu negara menjadi cacat maka negara pembuat cacat itulah yang harus bertanggung jawab terhadap negara yang telah dibuatnya menjadi cacat. Dalam hal ini, INDONESIA adalah negara yang terlahir dengan kecacatan disana-sini akibat dari mereka para negara-negara komunis.

Selama 63tahun Indonesia terus berusaha untuk tetap berdiri meski sejak ia lahir telah cacat, cacat karena jajahan para penjahat berkedok negara. Apa yang dulu mereka fikirkan ketika mereka menjajah negara kecil ini, negara yang damai sejahtera ini. Dalam ilmu kesejarahan mengatakan bahwa mereka mencari kekuasaan akan pulau ini, baik lahannya, hasil buminya, bahkan hingga sumber daya manusianya.

Mereka sang Penjajah memang telah terlahir diatas sifat ketidakperikemanusiaan, mereka telah diberi makan kearoganan dan idealisme sebagai minumannya. Otak mereka hanya sebagai alat perhitungan atas keuntungan-keuntungan yang mereka raih, mereka capai dan mereka nikmati. Hingga sekarang Indonesia masih mampu tersenyum meski ia sedang mengalami kesakitan disana-sini, inilah bangsaku. Bangsa yang selalu ramah, bangsa yang selalu bangga dengan keadaannya.

Ia telah melewati perjuangan yang begitu berat hingga sekarang, Aku bangga Padamu! Aku bangga akan Indonesia! Aku bangga bahwa kau adalah Tanah Airku dan karena Ini adalah Kegombalanku.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Just Another Thought

perjalanan jemari dalam rentang yang berbeda

Afriq Yasin Ramadhan

Media curhatan digital

denandika

learning for around the world