Search

@rahendz's blog

The official Rahendra Putra K Weblog

Month

March 2008

Ayat-ayat Cinta. The phenomenon.

Tidak. Bukan seperti biasanya. Bukan seperti kebanyakan. Memang untuk membacanya sering kita berada didalamnya. Bahkan tak jarang pula kita menjadi orang ketiga yang benar-benar bermain dalam drama itu. Namun ini. Drama ini begitu berbeda. Untuk beberapa cerita memang mampu membuat saia tertegun dan merasakannya. Melaluinya. Seakan ini sedang terjadi dihadapan saia. Saia akui bahwa tak jarang drama yang selalu saia sempatkan untuk membacanya akan selalu tertanam dalam benak saia dan selalu saia ingat. Bahkan saia ambil inti dari permasalahan yang ditimbulkan dalam alur penceritaan tersebut. Namun. Saia tak habis pikir bahwa plot ini mampu membuat saia benar-benar merasakannya. Merasakan bahwa cerita ini nyata. Alur ini ada. Ini seperti diary. Diary yang berisi tentang kisah seseorang nun jauh disana. Setelah membacanya pun saia masih merasa bahwa saia seperti baru saja sedang mengalaminya. Seakan tokoh ini adalah kerabat saia dan saia sedang berada disampingnya. Mendengarkan dan merasakan perjalanan hidupnya. Saia seperti berdiri disampingnya saat ia berkata. Saia selalu merasa tertekan ketika ia sedang gelisah. Ingin rasanya memberikan sebuah jalan keluar. Memberikan sebuah penghiburan. Menawarkan bantuan. Meski saia sadar bahwa ini hanya sebuah cerita yang saia ikuti dengan mata dan batin saia saja.

Ingin sebenarnya mengungkapnya dari dulu. TIdak. Bukan dari dulu, melainkan ketika saia membacanya pertama kali. Yah. Novel Ayat-Ayat Cinta, The Phenomenon. Ini bukan sekedar novel dan cerita. Ini adalah sebuah dakwah. Perjalanan religius. Ajaran-ajaran dan pengetahuan Agama Islam yang untuk beberapa orang bahkan belum pernah tahu. Kisah yang diceritakan begitu ringan tetapi kandungan yang dibebankan didalamnya begitu hebat. Saia telah yakin bahwa movie-nya tak semenarik dan se-berisi novelnya. Saia juga tahu bahwa karena adanya keterbatasan waktu atau durasi hingga tidak memungkinkannya pembuatan skenario yang mirip dengan novelnya. Tapi setidaknya tidak terlalu melenceng jauh dari sumbernya. Itu yang sebenarnya saia harapkan dari film-nya. Namun dalam kenyataan memang susah. Film-nya sangat jauh sekali. Yang saia sayangkan adalah babak dimana sang tokoh utama menerangkan kenapa ketika kita menyakiti orang yang bahkan bukan seiman dengan kita, kita sama saja menyakiti Rasulullah, Kita telah berseteru dihadapan Allah melawan Rasulullah, hingga akhirnya ia yang menyakiti dan mangata-ngatai orang yang bukan seiman tersadar.

Kemudian dalam film. Diperlihatkan bahwa sang istri pertama tokoh utama, terlalu bangga dengan statusnya sebagai orang kaya melalui dialognya ketika sang suami tak perlu bekerja dan uang-nya telah lebih dari cukup. Padahal di dalam novelnya, sang istri diceritakan sebagai seorang yang kaya raya namun dalam penggunaan hak materinya diserahkan kepada sang suami. Seperti saat ketika sang istri rela berpanas-panasan dan berdesak-desakan di dalam metro hanya karena ia tak berani meminta ijin kepada suaminya untuk membeli mobil karena takut keputusannya tak sejalan dengan gaya hidup sederhana suaminya selaku pemimpin keluarga. Disini dijelaskan bahwa suami adalah pemimpin namun didalam film tidak seperti itu. Ini pula lah yang saia sayangkan ketika hal-hal penting seperti ini dihilangkan.

Dan yang paling, paling, paling disayangkan adalah ketika Maria bercerita mengenai keadaan dirinya dalam alam bawah sadar. Ketika ia berada didepan pintu masuk Surga. Bagaimana kejadian ketika ia mencoba satu persatu pintu Surga hingga ia akhirnya putus asa dan melantunkan Surat Maryam sambil menangis. Hingga akhirnya sang Bunda Maryam menemuinya dan menerangkan bagaimana cara agar ia dapat masuk Surga. Ia terbangun dan menceritakan semuanya hingga akhirnya ia dibimbing untuk berwudlu, mengucap Syahadat dan akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Mungkin sebenarnya banyak yang sangat disayangkan untuk dibuang, padahal beberapa hal bahkan banyak hal yang merupakan dakwah-dakwah islam yang bagi sebagian orang sangat dibutuhkan. Mungkin hanya sebagai bimbingan atau bahkan mungkin mampu menjadi sebuah koreksi kehidupan. Cerita ini untuk saia merupakan cerita sederhana yang mampu membuka mata kita akan eksistensi Islam dalam kehidupan sehari-hari dan dalam ujian dari Allah atas manusia pada umumnya.

my imagination day

Okey, cukup. Hari ini tidak ada yang istimewa. Hanya pelaksanaan jadwal sehari-hari yang membosankan. Seperti Biasa. Bangun pagi… (bohong..) fine, saya tidak tidur semalaman. Insomnia berkelanjutan dan sudah masuk ke stadium 4. Mata bengkak, Bukan karena dipukul dan juga bukan sedang mencoba
untuk menjadi petinju kelas dunia, melainkan mata bengkak karena perbandingan durasi antara stand by dan hibernate sangat signifikan, mata yang dituntut untuk tetap berkerja 24jam non stop. Kesibukan kuliah sudah kurang lebih berjalan 3 minggu dan Whooaala!! New Record has been added in my journal of life! Dalam satu minggu paling tidak saya hanya membolos kuliah, eit.. bukan… bukan… tepatnya males untuk kuliah hanya 2 hari dari jadwal menyebalkan selama 6 hari. Hey! This is still a new record for me! Bagaimana tidak, dari semester sebelumnya paling-paling aktivitas yang bener-bener bisa dihitung sebagai kegiatan kuliah hanya 1 hari, itu juga dalam satu bulan, Atau bahkan tak jarang dalam sebulan saya tidak pernah masuk sama sekali. Benar-benar tidak dapat dimengerti. Yep! Saya juga bingung dengan kondisi yang berpusat disekitar kehidupan ini. Terlalu rumit untuk dimengerti dan dipahami. Atau terlalu tidak mau tahu. Ahh, whatever!

Shi*t… ini adalah batang rokok terakhir. Rokok kesukaan saya. Hmm,.. kalian pasti sudah tahu apa rokok yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi idola saya dan sudah berdiri sejak punya saya sudah bisa berdiri, maksud saya adalah kaki saya. Yep, LA LIGHT 16. Akhir-akhir ini saya sering tak sadar bahwa dalam tiga hari ini hanya menghabiskan rokok satu bungkus dan tidak lebih. Dan malah sekarang adalah hari keempat dimana hanya tersisa 3 batang rokok. Oh iya, pagi ini waktu terbangun, menggosok gigi sebentar (namun dengan benar dan bersih) kemudian seperti biasa. Membuat Kopi Goodday Carribean atau Vanillalatte tanpa tambahan gula, pemanis buatan, bahan pengawet dan bebas kolesterol, bila tidak percaya silahkan diuji coba dengan diminum. Duduk dan menyalakan komputer, ups… salah. Menyalakan monitor, karena komputer ini selalu-always-kerep tak pernah saya matikan selama 24 jam nonstop. Disini saya begitu kaget ketika akan memulai kepulan asap dihari keempat. Pertama mencoba mencari dimana saya meletakkan rokoknya. Saya tidak sadar bahwa rokok itu ada dibawah monitor komputer. Daya tahan memori otak ini memang sudah soak. Pernah baca disebuah koran harian Republika yang tidak boleh disebutkan nama korannya, bahwa jika kita sering bertemu orang baru dan berkenalan, disaat itulah memori kita bekerja. Apabila dalam seketika kita langsung lupa nama orang baru tersebut maka kita sudah dapat dipastikan memiliki kelainan dalam sistem memori otak yang menyebabkan daya ketahanan otak untuk tetap menyimpan memori menjadi berkurang. Oke, hanya sebatas itu saja saya tahu apa yang tercetak tebal dikoran tersebut, jujur saja. Membaca itu sulit, karena angin saja tak dapat membaca apalagi yang bukan angin.

Back to smoke. Setelah aku dapati rokok saya ada dibawah monitor, saya terperanjat, terkaget, setengah tidak percaya dan setengahnya lagi tetap tidak percaya sambil menjerit. Oke, tidak sampai menjerit. Hanya kaget dan dongkol. Percaya tidak percaya dan bukan sulap bukan sihir, ala-kadang-bra! Ternyata tutup bungkus rokokku sudah lenyap tak berbekas. Di TKP hanya tertinggal barang bukti berupa beberapa helai rambut, atau bisa dibilang bulu. Bukan bulu roma, karena bang roma tidak berbulu. Hanya berambut, meski kecil-kecil. Beberapa saat saya mencoba mencari-cari tersangka pelaku, saya dapati seekor kucing milik ‘mbak’-nya saya sedang enak-enakan makan diatas ‘keset'(alas yang biasa ada didepan pintu bertuliskan welkom.. atau telkom!? what the hell!) depan ruangan pribadi saya. Spontan waktu itu saya berteriak dan menuding. Tak lupa menelpon polisi dan tetap masih menodongkan pistol ke arahnya. ‘Jangan bergerak, kau-cing sudah terbukti sebagai tersangka peng-‘gondol’-an, pencurian dan perampokan tutup bungkus rokok. Menyerahlah!’ namun ia hanya menengok, menatap saya kemudian meneruskan ‘ngemil’ tutup bungkus rokok yang ia ambil dari saya. Benar-benar penjahat kelas kakap. Ia tidak bergeming.

Benar! ini memang imajinasi yang berlebihan. Tetapi tetap saja menjengkelkan. Bagaimana tidak, silahkan pikir. Oke, jangan berfikir dulu.. dengarkan saya dulu, baru silahkan berfikir jika memang dibutuhkan. Seekor kucing yang lapar, menyobek tutup rokok dengan gigitannya, dan memakannya didepan kamar. Menyebalkan. Masih bisa aku nalar jika ia mengambil batang rokok dan menyalakannya, tapi ini! dia malah hanya mengambil tutup rokoknya. Ayolah, yang benar saja. But it’s fine, saya hanya bisa nelangsa saja melihatnya. Dan sekarang terbukti bahwa hari-hari dimana saya selalu ada didalamnya. Hanya berisi tentang imajinasi dan penghiburan diri sendiri. Tak lebih dari itu.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Just Another Thought

perjalanan jemari dalam rentang yang berbeda

Afriq Yasin Ramadhan

Media curhatan digital

denandika

learning for around the world