Search

@rahendz's blog

The official Rahendra Putra K Weblog

Month

January 2008

heart screaming

Warnanya menguning
seperti saat senja sampaikan kesahnya
dalam lelap lamunanku kala itu

Asaku terhadap sang putri
seperti menguap begitu saja
rasa itu seakan semakin usang
laiknya daun-daun yang gugur
hanya karena hijau
kembali menguning kecoklatan

Jatuh ke atas tanah
dan berkumpul dengan yang lain
daun yang dulu pernah rasakan
hawa sejuk diatas sana …

Apakah memang selalu seperti ini
ketika dunia tak lagi menginginkannya
maka is campakkan begitu saja …

Ataukah ini hanya jalan lain
yang hingga sekarang
kita tak tahu
kapan ujung jalan itu
terlihat oleh mata kita … ?

Advertisements

be a smoker ?

Oke, untuk beberapa orang mengatakan pada saia bahwa merokok bukan hal yang baik bagi kesehatan. Sekarang hal ini hanya masalah pembandingan semata, kita memposisikan diri kita pada spot yang mana, jika kita memposisikan diri kita diantara orang yang tidak merokok maka kita menjadi manusia yang sepenuhnya bodoh karena kita tidak mementingkan kesehatan orang lain dan diri sendiri. Namun… dari sisi lain jika kita berdiri diantara orang-orang yang merokok, narkoba bahkan minum-minuman keras maka kita menjadi manusia yang berkelas eksekutif karena kita masih mampu menahan diri dengan hanya menghisap rokok saja.

Kontroversi terjadi disebagian orang dan pro kontra sering tak terelakkan, namun sekali lagi bahwa dibangsa indonesia terlalu sulit untuk menghilangkan kebiasaan merokok. Sedangkan bagi saia merokok adalah suatu inspirasi bukan kecanduan, disini saia mengatakan seperti itu karena tanpa merokok pun saia tetap mampu menjalani hidup namun ketika saia butuh inspirasi bahkan tak jarang ketika saya penat maka rokok menjadi pelampiasan yang lebih fleksibel daripada saya harus merogoh kocek hanya untuk sekedar melancong.

Untuk dari segi finansial melancong merupakan alternatif hemat untuk mengatasi kepenatan, namun dukungan faktor X juga mempengaruhi yaitu seperti sarana prasarana yang notabene juga membutuhkan uang. Sama saja buat saia, hanya saja merokok bagi saia jauh lebih dekat pengimplementasiannya dan ‘ndak’ butuh tenaga yang tinggi. Cukup gerakkan tangan. Ambil bungkus. Buka Tutup bungkus rokok. Ambil sebatang dan nyalakan. Fiuh, asap sudah mengepul diantara mulut saia yang manyun membentuk huruf ‘O’ dan Whoaalla… stress dan penat hilang, inspirasi kembali berlabuh.

Ini bukan pertentangan, ini hanya opini sehat dari seorang perokokholic yang juga kecanduan blogging…

What do you wanna be?

Hari itu saya ‘ndak’ tau kenapa tiba-tiba saja dipanggil sama Babe sebutan bapak bagi saya kalo dirumah, padahal saya sedang enak-enak makan malam dikamar sambil nonton TV dari komputer saya. Kalo ‘ndak’ salah saat itu jam 11.30 dan kegiatan yang biasa dilakukan Babe saya adalah maen kartu eit, yang ini maen-nya ga pake kartu lho sambil ronda tepat didepan rumah saya. Tapi ini lain, beliau tidak ronda seperti biasanya, beliau malah ‘ngebunuh’ lampu kamar saya dan duduk disamping saya. Waduh bahaya niy pikir saya, kok tiba-tiba saja Babe saya jadi agresif gini.

Beliau sempat berkata sebentar setelah beliau duduk, untuk sekalian mencuci piring yang saya buat untuk makan karena Nyak nah, ini sebutan ibu bagi saya kalo dirumah sudah tidur dan capek. Saya pas itu hanya mengangguk karena mulut saya masih terlalu penuh untuk sekedar menjawab ‘injih’ kepada beliau. Bagi saya, beliau ada tauladan keluarga yang paling baik sedunia dan paling bijaksana. Setelah selesai dengan urusan mencuci piring, semuanya. Saya kemudian kembali menekuni dunia pertelevisian, sangka saya Babe sudah pergi tetapi ternyata Beliau masih duduk bersila sambil menghisap rokoknya dalam-dalam dan mengepulkannya pelan tetapi panjang.

Saya benar-benar kaget saat itu, “ada apa dengan beliau?” pikir saya saat saya mencoba masuk kamar. Kemudian beliau menyuruh saya duduk didekatnya. Masih menghisap rokok kreteknya yang menurut saya bau rokok itu terlalu menyengat, kenapa beliau tidak beralih ke rokok filter? Tapi itu bukan hal yang begitu berkecamuk dalam pikiran saya saat itu. Beliau membuka pembicaraan, “Hendz… besok setelah lulus kamu mau jadi apa?” tanyanya pelan sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya pelan dan menatap layar monitor yang saat itu sedang menampilkan iklan-iklan televisi.

Saya begitu terperanjat saat beliau menanyakan itu, seperti dipukul beratus-ratus orang. Mulut saya pada malam itu terdiam lama, belum sempat saya menjawab Beliau menimpali. “Jangan tiru kakak-kakakmu. Kuliah dan masa depan ada ditangan kamu,” beliau mengulurkan tangan dan meraih asbak didekatnya untuk membuang abunya yang sudah terlalu panjang di batang rokoknya. Kemudian ia melanjutkan, “Aku cuma bisa ngebiayai sebisanya, jadi jika kamu masih belum lulus atau butuh sesuatu sedangkan aku sudah tidak mampu membiayai…”, beliau menghisap rokoknya panjang. “Maka itu menjadi usahamu sendiri, dan jangan menjadi orang yang suka merepotkan orang lain.”

Saat beliau menghembuskan asap rokoknya dengan panjang dan menoleh kepada saya, saya hanya mampu tertunduk diam sambil mendengarkan beliau. Hampir saat itu saya ingin menangis pelan, tetapi terlalu takut diketahui beliau bahwa anak cowoknya ternyata cengeng. “Jadilah orang yang berguna kelak, luluslah dengan bangga, dan dapatkan perkerjaan yang Halal dan layak. Tidak perlu bergaji besar, tetapi cukup untuk sehari-hari. Bantulah ibu mu dan bapakmu ini…” Suara beliau terdengar berat saat itu, beliau mematikan rokoknya yang telah sampai dipangkalnya. “Sekarang cuma kamu yang bisa berfikir kedepan dengan contoh-contoh yang telah diberikan kakak-kakakmu selama ini.”

Beliau berdiri dan memegang kepala saya sambil berkata untuk yang terakhir sebelum beliau pergi tidur, “Tata masa depanmu dari sekarang..” Kemudian beliau keluar dari kamar dan meninggalkan saya yang masih terpaku dengan kepala tertunduk. Sejenak saya berfikir jauh… Mau jadi apa saya kelak dan jalan yang bagaimana yang harus saya tempuh…

when rain goes down

Hari ini hujan membasahi bumiku, bumi kita. Awalnya ia mendung, menggelayutkan kelabu di dagunya. Tak lama ia tertawa dengan gelegarnya. Akhirnya ia turunkan juga kebasahan yang membuat kulit bumi tersembuhkan dari kehausan. Hawa hari itu begitu
dingin tetapi tidak menusuk. Menyejukkan dan menenangkan batin yang mendengar gemiricik tarian rintikkannya. Tanah yang sebelumnya terlihat kelambu karena sedih, sekarang lebih terlihat cerah dan ceria dengan kecoklatannya. Daun-daun berlomba-lomba untuk menangkap setiap butiran-butiran air hujan untuk segedar membasahi badan mereka.

Motor merah tua kusandarkan dalam keteduhan, takut bukan karena flu dan demam melainkan takut akan ketuaannya yang semakin berumur. Ketuaannya membuat dirinya tak mampu berjalan dalam kondisi dingin dan basah. Si tua tak perlu tongkat karena jalannya memang membungkuk, seolah ia menghormati sang empunya dirinya. Dalam gerimis yang menari-nari didekatnya, ia bersenandung lirih akan masa mudanya. Ia seperti bercerita mengenai perjuangannya pada masa keemasannya pada sang anak hujan yang mampit dikakinya untuk sekedar mencari kehangatan.

Kali ini langit menampakkan putihnya diantara rintikkan air yang melesat jatuh ke bumi, bukan tanda bagi kerumunan hujan untuk berhenti melancong ke dunia manusia. Namun itu merupakan peringatan bagi mereka yang masih tertinggal diatas sana untuk segera bersinggah dihunian bertanah coklat dan ilalang. Suasana sore hari membuat semua menjadi lebih indah, saat sang ufuk terelap dalam barat dan membangunkan sang pangeran malam untuk berkelana.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Just Another Thought

perjalanan jemari dalam rentang yang berbeda

Afriq Yasin Ramadhan

Media curhatan digital

denandika

learning for around the world