Parah aku mendengarnya, bukan dari diri aku tapi melihat ke kehidupan yang lain. Selama ini aku berkutat dengan hal-hal yang tidak aku pahami dan kuasai, aku selalu berupaya untuk tetap menjalani hal yang sangat bahkan terlalu tidak mungkin untuk aku kehendaki. Melihat ke ujung dunia, apa memang ada orang lebih jauh menderita di dalam hati seperti aku. Mencoba mengais kehidupan di belantara pernafasan, menjajagi kerapuhan dalam kehancuran. Terlalu pelik, bahkan sang maestro pun akan berhenti memainkan group bandnya bila mendengar kehidupannya berteriak kesakitan. Jiwa ini terbelenggu, tanpa kesolidaritasan, tanpa belas kasihan, menapak ke tanah yang menguap ke angkasa. Menyedihkan, alur kehidupan memang membuat manusia buta akan segala hal. Mungkin bukan hal yang gampang disadari oleh setiap orang tapi mereka perlu tahu bahwa hidup bukan milik kita, sejak dulu. Sejak kita dihidupkan dari kebakaan sang Esa. Mengakulah bahwa kita sekarang terpontang-panting karena kehidupan yang hanya membuat kita berputar-putar belaka di dunia fana ini, jalan lurus yang seharusnya kita cari namun telah kita buat berkelok dan berputar dengan keringat kita sendiri. Cemoohlah semua hal yang membuat kita seperti itu, bukan dari Pencipta, buka dari orang lain melainkan dari kita sendiri. Kita memang biadab untuk kehidupan kita sendiri, menjadi orang yang sepadan dengan panutan memang tidak mudah. Bahkan kita hanya perlu menyamai satu hal yang pernah dilakukannya pun nampaknya sangat tidak mungkin, kita telalu bernafsu untuk hidup yang lebih baik bukan untuk menjadi khalifah yang baik dan benar. Keparat! Kemana kehidupan ini akan berlanjut, sangat mengharukan ketika kita kehabisan waktu untuk mencari upah dari kehidupan. Kita akan disiksa habis-habisan oleh keburukan dan kemunafikan kita sendiri. Menyerahlah untuk menjadi orang yang baik di depan orang lain tetapi berusahalah menjadi orang yang lebih baik dimataNya.